PANDUAN TERAPI SENGAT LEBAH
PANDUAN TERAPI SENGAT LEBAH
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….. 2
BAB. I. MENGENALI PASIEN …………………………………………………….. 3
- Pasien ada bawaan alergi…………………………………………………. 4
- Pasien tidak
ada bawaan alergi ……………………………………………
5
BAB. II. MENGENALI GEJALA PENYAKIT ……………………………………… 6
- Mengukur tekanan darah dan detak jantung …………………………….. 6
- Melakukan tanya jawab dengan pasien …………………………………… 7
- Mencatat data diri pasien dan kondisi pasien di Kartu Status Pasien …. 8
- Menentukan titik awal pengobatan / terapi ………………………………..
9
Pasien ada
riwayat alergi
a. Pasien tidak
ada riwayat alergi
b. Pasien yang
pernah terapi lebah sebelumnya.
BAB. III. PENENTUAN TITIK TERAPI…………………………………………… 10
- Terapi
pada kunjungan pertama (hari pertama) ……………………….. 10
1. Terapi pada
titik awal / adaptasi / tes alergi
2. Lokasi titik
terapi pada hari pertama
3. Pemberian obat
anti alergi
4. Anjuran pasien
setelah diterapi pada hari pertama
- Terapi
pada kunjungan berikutnya (hari ke 2 dst.) ……………………… 12
1. Terapi pada
titik simpton (gejala) / titik ase
2. Terapi pada
titik meridian
3. Terapi pada
titik kesehatan / kebugaran / pemulihan
4. Terapi pada
titik perawatan.
BAB. IV. PENUTUP…………………………………………………………………
KATA PENGANTAR
Buku panduan ini dibuat untuk memberikan gambaran secara singkat sebelum memulai
praktek Bee Acupuncture. Secara detail setiap praktisi harus mengikuti
pelatihan secara langsung dan melakukan praktek sendiri pada saat pelatihan.
Beberapa materi yang harus dipelajari oleh setiap
praktisi, baik sendiri maupun saat mengikuti pelatihan adalah pengetahuan
tentang :
- lebah dan
koloni lebah,
- madu dan
manfaatnya,
- penyakit
umum pada manusia,
- anatomi
tubuh manusia,
- ilmu meridian
akupunktur.
Ke lima materi ini merupakan pengetahuan dasar sebagai
bekal untuk buka praktek bee acupuncture.
Bagi yang berminat untuk menekuni bidang ini tidak
perlu khawatri dengan materi dasar tersebut, karena pihak Klinik Terapi Lebah Wima menerbitkaan buku-buku tersebut yang bisa
dipelajari siapa saja, dengan bahasa yang mudah dicerna.
Tidak saja mudah dipelajari namun akan selalu
dibimbing terus agar setiap praktisi akan mudah memprkatekannya.
Terakhir semoga ilmu ini bermanfaat bagi semuanya,
Amiin.
Klinik Terapi
Lebah (Apitherapy) WIMA
Penyusun,
(Wima Mulaji Harsono, Akpt.)
HP : : 0812 8339 8340
BAB.
I.
MENGENALI
PASIEN
Setiap pasien
yang datang untuk berobat harus
diperlakukan dengan ramah, sopan dan
penuh persaudaraan. Pasien sangat memerlukan keterangan yang jelas dari apitherapist (tenaga ahli terapi lebah), karena banyak yang belum diketahui tentang
pengobatan dengan metode ini. Biasanya yang ada di pikiran pasien adalah rasa sakit dan bengkak setelah disengat
lebah, dibanding penyakitnya itu
sendiri. Ini wajar karena setiap orang yang pernah terkena sengatan lebah /
tawon, hanya rasa sakit dan bengkak yang muncul. Ini tugas pertama dari seorang apitherapist menjelaskan sedetil mungkin.
Dalam
memberikan keterangan kepada pasien yang datang, seorang apitherapist diwajibkan
terlebih dahulu memberikan informasi ke
pasien bahwa lebah yang dipakai untuk terapi bukan lebah ganas dan liar, tapi lebah yang jinak dan bisa dibudidayakan. Jadi tidak
bahaya jika digunakan untuk terapi. Juga dalam terapi nantinya akan dilakukan oleh ahlinya secara terukur dan
teratur.
Perlu
diinformasikan juga bahwa rasa sakit yang
timbul hanya sementara dan tidak
lebih dari 2 menit, serta akan pulih
kembali seperti semula. Sedangkan bengkak
(inflamantasi) bisa lebih lama, tergantung kondisi pasien dan lokasi sengatan
di tubuh pasien. Bengkak akan kembali normal lagi dalam jangka waktu yang
berbeda dari setiap pasien, namun kalau dibuat rata-rata bengkak yang timbul
akan hilang sekitar 2 hari.
Dalam
menangani setiap pasien, hal yang paling
penting adalah mengenali terlebih dahulu kondisi dari si pasien sebelum
dilakukan tindakan. Secara fisik setiap pasien memiliki daya tahan tubuh yang
berbeda-beda, ini yang membedakan penanganan pasien satu dengan pasien yang
lainnya.
Dalam
menangani pasien dengan terapi ini, secara umum kondisi fisik pasien dibagi
menjadi 2 kelompok, yaitu :
- Pasien ada bawaan alergi
- Pasien tidak
ada bawaan alergi
1. Pasien ada bawaan alergi
Pasien
kelompok ini terbagi menjadi 2 kelompok yaitu Pasien dengan bawaan alergi sengatan lebah dan Pasien dengan bawaan alergi bukan sengatan lebah ( seperti alergi
makanan, obat, zat kimia, debu dll). Dalam hal ini mungkin saja pasien tidak
alergi dengan sengatan lebah, tapi alergi dengan lainnya misalkan alergi
makanan. Atau sebaliknya, alergi dengan
makanan tapi tidak alergi dengan sengatan lebah.
Dari
pasien yang alergi dengan bukan
sengatan lebah, kemungkinan terkena alergi
sengatan lebah sekitar 50%. Artinya pasien dengan bawaan alergi, akan
lebih besar terkena alergi sengatan lebah, yaitu sekitar 50%, disbanding pasien
yang tidak punya alergi. Untuk golongan pasien ini tetap harus menjadi
prioritas dalam melakukan tindakan dan memberikan tanda khusus pada kartu
status paseien yang bersangkutan
Pasien yang alergi dengan sengatan lebah, sebaiknya dihindarkan. Penyakit alergi disebabkan karena kadar imunoglobin tipe E (Ig E) di dalam tubuh berlebihan. Pada
sengatan lebah pertama tubuh akan membentuk sedikit Ig E. Pada orang yang sejak
lahir sudah berbakat membentuk Ig E berlebihan, akan mudah terkena alergi
sengatan lebah dan ini sifatnya individual. Pada orang normal kadar Ig E-nya
sangat rendah. Kontak racun lebah dengan Ig E
menyebabkan Ig E menempel pada sel mast dan sel basofil yang banyak mengandung hystamin. Bila hystamin sampai keluar akibat banyaknya Ig E, maka akan menimbulkan gejala-gejela berupa :
benjolan-benjolan, gatal-gatal, sesak nafas, bisa juga pingsan.
Ini merupakan gejala alergi.
Pasien dengan bawaan alergi sengatan lebah, penangannya agak sulit karena untuk bisa melakukan terapi ini si pasien harus adaptasi dengan sengatan lebah dalam waktu yang relatif lama, atau alerginya disembuhkan dahulu. Ada beberapa cara untuk menangani pasien dengan alergi sengatan lebah. Salah satunya dengan memberikan bee pollen selama 1 bulan penuh. Setelah itu tetap harus dilakukan tes lagi, apakah masih alergi atau sudah tidak alergi.
2. Pasien tidak ada bawaan alergi
Kelompok ini yang paling banyak dijumpai, karena sebagian besar komunitas manusia tidak alergi dengan sengatan lebah. Hal ini yang menjadikan pengobatan ini banyak diminati, karena hanya sebagian kecil saja yang tubuhnya monolak sengatan. Pada kelompok ini, seorang apitherapist dalam melakukan terapi lebih leluasa menentukan titik lokasi sengatan.
Ada beberapa kasus, paien semula tidak alergi dengan sengatan lebah, namun setelah beberapa waktu (lebih 3 bulan) tidak ada sengatan lebah (melakukan terapi sengatan lebah) dalam tibuhnya, bisa terkena alergi sengatan lebah. Hal ini banyak dipengaruhi akumulasi konsumsi makanan tertentu, seperti alcohol, narkoba dll.
Dari
ke 2 kolompok pasien ini yang paling banyak (sekitar 99 %) adalah kelompok
ke-2, yaitu pasien tidak ada bawaan alergi.
Hanya sebagian kecil saja pasien yang mempunyai bawaan alergi atau hanya 1%
saja dalam suatu komunitas. Walaupun demikian diharuskan tetap hati-hati dalam
menangani pasien yang datang.
BAB.
II.
MENGENALI
GEJALA PENYAKIT
Setelah
mengetahui pasien termasuk alergi sengatan lebah atau tidak, langkaah berikutnya
mengenali keluhan dari pasien. Ini penting karena untuk menentukan lokasi dan jumlah titik sengatan
ditubuhnya.
Ada beberapa
cara untuk mengetahui jenis penyakit yang diderita pasien, diantaranya dengan mengajukan pertanyaan dengan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium, seperti kadar gula dalam darah, kadar kolesterol, kadar asam urat dll.
LANGKAH-LANGKAH AWAL SEBELUM DILAKUKAN TERAPI
Ada beberapa
langkah sebelum dilakukan tindakan terapi (sengatan lebah) yaitu :
1. Mengukur tekanan darah dan detak jantung
Paseien harus menjalani pengukuran tekanan darah terlebih dahulu, ini dikhawatirkan pasien sewaktu datang berobat dalam keadaan darah rendah (turun) karena faktor kelelahan dalam perjalanan. Dianjurkan mengunakan alat pengukur tekanan darah digital, karena bisa dideteksi tinggi rendahnya tekanan darah dan detak jantung, disamping itu juga pasien bisa melihat langsung hasilnya.
Gambar : Alat pengukur tekanan darah dan detak jantung digital
Paseien dengan tekanan darah systolic dibawah 100 mg/hg dan atau diastolic dibawah 50 mg/hg, dan detak jantungnya dibawah 60 / mnt, ( <100/50/60) tidak diperkenankan untuk dilakukan tindakan penyengatan. Perlu dimintai keterangan , apakah tekanan darahnya dan denyut jantungnya memang seperti itu ? karena ada sekelompok orang dengan tekanan darah yang menurut ukuran pada umumnya dianggap rendah, tapi menurut orang yang bersangkutan itu sudah biasa.
Jika tekanan darah dan detak jantung pasien rendah dan sudah biasa bagi pasien maka langkah melakukan sengatan sudah bisa dilakukan. Tapi kalau pasien menerangkan bahwa dia tidak pernah ukuran tekanan darahnya dan detak jantungnya serendah itu, maka tidak boleh dilakukan tindakan penyengatan. Pasien harus menormalkan terlebih dahulu tekanan darah dan detak jantungnya. Dalam hal ini tunggu beberapa saat, atau tunda dahulu pengobatannya pada hari itu.
Dalam
beberapa kasus jika pasien saat dilakukan tindakan penyengatan, tekanan darah
dan detak jantugnya dalam keadaan rendah, pasien bisa mengalami syok dan pingsan. Ini dikarenakan
sengatan lebah akan menurunkan tekanan darah, karena salah satu fungsi bee venom yang disuntikan lebah
ke dalam tubuh pasien, akan melebarkan dan melenturkan kapiler darah. Sehingga
pasien yang sedang mengalami tekanan darah rendah jika dilakukan sengatan akan
semakin rendah, yang akhirnya akan mengakibatkan suplay makanan dan oksigen ke
organ otak berkurang, dan akan mengurangi kesadaran hingga bisa pingsan.
Pingsan akibat sengatan lebah karena tekanan darah yang menurun drastis ,
sifatnya hanya sementara, dan akan normal kembali sekitar 1- 3 menit.
2. Melakukan tanya jawab dengan pasien
Seorang Apitherapist harus mengetahui jenis penyakit, lamanya terkena penyakit dan gejala
utama yang diderita oleh pasien. Hal ini bisa diketahui dari tanya jawab
dan juga data pendukung seperti hasil pemeriksaan laboratorium, rongen dll.
Ada beberapa contoh pertanyaan yang bisa diajukan ke pasien, antara lain
:
·
Apakah sebelumnya pasien sudah pernah berobat dengan sengatan
lebah?
·
Kalau sudah pernah, apakah ada alergi dengan sengatan lebah ?
·
Apakah ada alergi
sebelumnya ?, misalnya makanan ikan, udang, atau alergi obat, debu dll.
·
Apakah dalam 1 minggu terakhir mengkonsumsi minuman
keras seperti alkohol ?
·
Apakah punya hasil laboratorium
tentang penyakitnya ? seperti kadar gula, kadar kolesterol, kadar asam urat
dll.
·
Apakah pasien sudah sarapan (kalau datang pagi hari), dan cukup tidur semalan?
·
Apa keluhan
utama penyakit yang diderita ?
·
Apakah ada penyakit
lain selain keluhan yang utama ?
Dalam
tanya jawab yang perlu diperhatikan adalah keluhan utama dari pasien.
Seperti nyeri, pusing, sesak napas, susah berjalan dll. Keluhan utama ini yang menjadi prioritas
untuk dilakukan tindakan. Penentuan titik dan keluhan utama akan dibahas lebih
lanjut dibagain lain buku ini
3. Mencatat data diri pasien dan kondisi pasien di Kartu Status Pasien
Semua
keterangan yang di berikan pasien akan dicatat dalam kartu “Status Pasien”. Catatan pada Status Pasien berisi tentang hal-hal
yang berhubungan dengan data diri pasien, tentang penyakitnya, tanggal kunjungan,
jumlah sengatan, dan keterangna lain yang berhubungan dengan kondisi pasien termasuk
keterangan hasil tes laboratorium dari pasien, seperti tekanan darah, kadar gula,
kadar kolesterol, kadar asam urat dll.
Selain
catatan tersebut harus diketahui juga apakah pasien ada alergi atau tidak.
Contoh kartu “Status Pasien”
1. Menentukan titik awal pengobatan / terapi
Setelah
dilakukan pencatatan di Kartu Pasien, berikutnya menentukan titik sengatan pada
awal terapi. Disini ada 3 kelompok tindakan :
a. Pasien ada riwayat alergi
·
Jika alergi bukan
sengatan lebah, penyengatan dilakukan di tangan
·
Jika alergi sengatan
lebah, tidak bisa dilakukan penyengatan, tapi diberikan obat alergi berupa bee pollen selama 1 minggu.
b. Pasien tidak ada riwayat alergi
Pasien
ini bisa langsung dilakukan terapi awal / penyengatan, paling banyak 3 titik.
lokasinya lihat pembahasan Penentuan
Titik Terapi
c. Pasien yang pernah terapi lebah sebelumnya.
Pasien
ini bisa langsung dilakukan terapi lanjutan dari terapi sebelumnya, lokasinya
lihat pembahasan Penentuan Titik Terapi.
Jika waktu terapi terakhir lebih dari 3 bulan, maka terapi dilakukan dari awal.
BAB. III.
PENENTUAN
TITIK TERAPI
Jumlah
titik sengatan pada pengobatan dengan sengatan lebah harus dilakukan secara
bertahap. Hal ini dilakukan sebagai adaptasi
pada pasien dan menguji ada tidaknya alergi
sengatan lebah ke pasien.
Berikut adalah
tahapan-tahapan terapi pasien
A. Terapi pada kunjungan pertama (hari pertama)
a) Terapi pada
titik awal / adaptasi / tes alergi
Pada
setiap pasien yang baru menjalani terapi ini, akan dilakukan penyengatan pada
titik awal /adaptasi, ini ditunjukan agar untuk pertama kali tubuh pasien akan
beradaptasi terlebih dahulu dengan venom lebah dan mengetahui apakah pasien
alergi atau tidak dengan sengatan lebah. Jumlah sengatan antara 1-3 sengatan, tegantung kondidi fisik pasien, tekanan darah pasien, usia dan
jenis penyakit yang diderita. (detailnya akan di jelaskan pada saat
menjalani training)
b) Lokasi titik
terapi pada hari pertama
Lokasi
titik terapi disini ada 1 titik, yaitu
titik dibagian tengkuk (titik
yamen) dan di 2 titik ditulang belikat (titik
dusu), untuk titik dusu diberikan
simetris kanan dan kiri.
Pemberian
titik dusu tidak harus dilakukan, ini tergantung kondidi pasien, pasien yang
tidak perlu diberikan titik dusu pada hari pertama a.l. :
·
Pasien dengan tekanan
darah rendah dari biasanya namun tidak terlalu jauh beda.
·
Pasien dengan usia
dibawah 5 th atau diatas 65 th
·
Pasien dengan keluhan penyakit infeksi (disebabkan aktivitas mikroba) seperti TBC, typus, liver
(hepatitis) dll
·
Pasien dengan keluhan lemah jantung, epilepsy (ayan)
atau kondisi tubuh lemah.
·
Pasien sedang hamil / menyusui.
c) Pemberian obat
anti alergi
Dalam
sedikit kasus pasien mengalami alergi
atau panas dingin (mengigil) setelah dilakukan sengatan dihari pertama. Untuk
mengantisipasi jika tertjadi alergi, maka apitherapyst
harus memberikan obat penawar alergi yaitu obat antihistamin, seperti CTM,
insidal dll. Dosisnya tergantung parah tidaknya alergi, dalam hal ini pasien
bisa dibekali dengan 2 tablet saja. Sedangkan jika terjadi kondidi mengigil
(biasanya malam hari) bisa disarankan diberikan makanan / buah yang mengandung
vitamin C yang tinggi seperti jeruk, apel, dll. Bisa juga di berikan madu yang
dicairkan (dicampur air) dengan perbandingan 2 sendok makan madu murni ditambah
air sebanyak ½ gelas.
d) Anjuran pasien
setelah diterapi pada hari pertama
Setelah
dilakukan terapi di hari pertama pasien duanjurkan sbb :
·
Jangan melakukan bepergian terlalu jauh (luar kota)
·
Istirahat yang cuklup sekitar 3 jam
·
Jangan dilakukan urut / pijit selama 3 hari
·
Jangan mengkonsumsi obat anti alergi jika tidak
terjadi alergi
·
Jangan melakukan pekerjaan yang berat selama 1 hari.
·
Mempersiapkan makanan / buah yang mengandung kadar
vitamin C tinggi untuk mengantisipasi jika terjadi keadaan mengiggil (biasanya
terjadi malam hari).
B. Terapi pada kunjungan berikutnya (hari ke 2 dst.)
Pada
kunjungan berikutnya (hari ke 2 kunjungan) perlu ditanyakan apakah setelah
dilakukan sengatan pada kunjungan pertama mengalami alergi atau tidak ? dan
apakah mengalami panas dingin atau tidak (menggigil) ?
Catatan : pasien yang mengalami alergi yang ditandai
bentol-bentol , gatal muka merah dll., ini merupakan bentuk penolakan tubuh
dari venom (sengatan) lebah. Sedangkan pasien yang mengalami panas dingin
(menggigil) menandakan tubuh pasien sedang melawan venom atau sengatan lebah
namun tidak mampu sehingga tubuh merespon dengan kondisi mengigil. Pasien yang
menggigil bisa diibaratlkan tubuh anak kecil dalam kondisi tidak sehat /fit
namun dilakukan imunisasi, shingga tubuh tidak tahan dan mengalami hal seperti
itu. Alergi dan mengigil tidak bahaya kaena akan pulih dengan sendirinya dalam
waktu tertentu.
Banyaknya
pemberian sengatan pada titik terpi, setiap kali pasien berobat akan mengalami
peningkatan seperti deret ukur, yaitu 2,4,6,8,10 dst. Atau naik 2 titik setiap
kali kunjungan. Pada kasus pasien yang tidak menunjukkan gejala negative
setelah hari pertama terapi, bisa diberikan jumlah sengatan yang lebih banyak
yaitu 4, 8, 15. 20 dst. Ini sangat ditentukan kondisi fisik dan usia pasien.
a) Terapi pada
titik simpton (gejala) / titik ase
Pasien
yang sudah dinyatakan tidak ada alergi sengatan lebah maka mulai dilakukan
terapi sengatan pada bagian gejala dari penyakitnya itu sendiri. Selengkapnya
ada di buku panduan “Lokasi Titik-titik
Terapi “
b) Terapi pada
titik meridian
Titik
meridian merupakan titik-titik yang didasari pada titik-titik acupoint dari terapi akupunktur dan titik-titik dari pengalaman pihak Kami
sendiri selama ini. Jumlahnya ratusan titik yang harus dihafalkan oleh setiap apitherapist.
Titik
ini paling dominan di terapkan dalam mengobati pasien. Jumlah dan lokasinya tidak sama untuk setiap pasien walaupun dengan
keluhan / penyakit yang sama. Yang membedakan adalah kondisi dan usia dari si
pasien. Pasien dengan kondisi lemah atau saat diterapi dalam keadaan tidak fit
akan mendapatkan jumlah sengatan relative lebih sedikit dibandingkan
dengan pasien dalam kondisi fit.
Demikian
juga pasien dengan usia lebih dari 60 th
dan kurang 5 tahun beda dengan pasien
yang usianya diantara usia tersebut. Berikut adalah salah satu contoh
titik meridian untuk kasus penyakit stroke.
c) Terapi pada
titik kesehatan / kebugaran / pemulihan
Titik disini diperuntukan pada pasien yang telah mulai mengalami perubahan atau kesembuhan dari penyakit yang diderita dan orang yang sehat untuk meningkatkan kebugaran dan menambah daya tahan tubuh saja.
Perlu diketahui bahwa terapi ini bukan saja untuk orang yang sakit/ pasien, tetapi juga untuk orang sehat yang bertujuan untuk mendapatkan kebugaran tubuh dan menambah daya tahan tubuh. Titik disini berpasangan atau kanan dan kiri secara simetris dari jarak garis tengah tubuh. Jumlah titik ada 16 titik (simetris 8 kiri-8 kanan). Adapun titiknya adalah sbb :
d) Terapi pada titik
perawatan.
Disini
akan diberikan pada pasien yang pernah berobat dengan terapi lebah, namun sudah
mendapatkan kesembuhan. Agar tidak kambuh lagi pasien perlu diberikan
terapi perawatan, yang waktunya setiap 1-2 kali setiap bulan. Titik yang di
terapkan hampir sama dengan titik untuk kesehatan, tapi jumlahnya hanya 8 titik
(simetris 4 kiri-4 kanan), Titiknya
adalah sbb :
BAB. IV.
PENUTUP
Buku panduan ini hanya garis besarnya saja, keterangan detailnya akan diberikan saat menjalani training. Khusus bahasan titik-titik terapi, akan dibahas dalam buku tersendiri.
Terakhir semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca, terutama yang berminat ingin manjadi apitherapist Semoga Allah S.W.T, meridhoi usaha ini dan memberikan kesembuhan bagi pasien-pasien yang memanfaatkan terapi ini.
Ingat semua penyakit
datangnya dari Allah S.W.T Dia-lah yang akan menyembuhkan, kita
semua hanya perantara kesembuhan, untuk itu sangat dianjurkan agar berdoalah
sebelum bekerja.
Salam,
Penyusun
(Wima Mulaji Harsono, Akpt.)
UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT DAN MINAT MENGADAKAN IN HOUSE TRAINING TERAPI SENGAT LEBAH SILAHKAN HUBUNGI : HP : 0812 8339 8340 ( Bp. Wima Mulaji Harsono)
.jpg)






Komentar
Posting Komentar